Monday, April 24, 2006

Humanitarian Worker (Part 2 - The Expatriate)

Humanitarian aid is aid provided for humanitarian purposes, typically on an urgent basis as a form of emergency management in response to a humanitarian crisis. The primary objective of humanitarian aid is to save lives, alleviate suffering, and maintain human dignity – wikipedia

Setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Prof Jacqui Siapno yang berjudul “Banda Aceh is now Dili” yang mengkisahkan keheranannya tentang banyaknya orang-orang yang dulu ditemuinya di Dili kini hijrah ke Banda Aceh mengilhami saya untuk menulis bagian ini.
Ada suatu bagian yang sangat menarik untuk saya kutip dimana Prof Siapno, sebagai seorang pendidik yang pernah bertahun-tahun melakukan penelitian tentang Aceh, melihat Timor Leste dan Aceh seakan menjadi penyedia lapangan kerja bagi bagi orang asing yang mana seringkali para "expert/adviser" ini pintar memodifikasi suatu isu yang sebenarnya ludicrous (sesuatu yang sepele, tidak penting, bahkan lucu) menjadi dominan dan penting. Sehingga beliau dan rekan-rekannya kerap menamakan Aceh sebagai "humanitarian supermarket" atau "commodification of ideas" (penjualan komoditi ilmu dan pikiran) dengan para konsultan dan tenaga ahli asing itu sebagai agen sosialisasinya.

Melihat pengalaman saya di lapangan, apa yang dikatakan Prof Siapno memang tidak jauh dari kenyataan. Sering saya bertemu dengan rekan-rekan dari UN agency atau INGO lain yang usianya masih sangat muda tapi sudah menampuk kekuasaan yang lumayan besar. Berbincang-bincang dengan beberapa orang diantaranya semakin membuat saya tidak mengerti, mengapa orang yang tidak pernah tau dimana Aceh, atau Indonesia, itu berada bisa berada di Aceh dengan jabatan yang sebenarnya bisa diberikan kepada para pekerja lokal? Ada pekerja asing yang cukup senior bahkan kerap bersitegang dengan staff lokal karena mereka dianggap berleha-leha meninggalkan pekerjaan karena baru kembali ke kantor sekitar jam dua siang pada hari jumat (setelah sholat jumat yang mulai sekitar jam 1 siang), apakah mereka tidak tahu bahwa ada adat istiadat yang harus dihormati disini? Seperti juga yang dikatakan oleh Prof Siapno bahwa tidak semua "expert" itu sama, ada yang baik dan sangat teliti yang memang sangat berpengalaman dalam bidangnya dan juga menghormati nilai masyarakat setempat, tapi tentu saja ada yang hanya ingin mencari uang dan menambah pengalamannya di daerah konflik sekaligus meningkatkan kondite pribadi. Beberapa pengalaman saya di lapangan memang membuktikan itu.

Lalu seperti pertanyaan saya di bagian pertama, apakah para expatriate pekerja kemanusiaan itu memang berhati mulia atau hanya sekedar para oportunis pencari keuntungan diatas penderitaan para korban?

Salah satu bos saya pernah menanyakan kepada saya, “are those needy victim have a holiday?” ketika saya mengajukan jatah cuti saya yang memang hak saya. hah? lalu bagaimana dengan dia yang meninggalkan para korban itu selama dua minggu setiap dua bulan sekali untuk mengambil hak liburannya sebagai orang asing di negeri yang dianggap berbahaya. Beberapa staff senior lokal juga mengeluhkan banyaknya ketidakadilan yang harus mereka terima walaupun memegang jabatan yang sama penting dan berada dalam satu strata. Walaupun tidak semua pekerja asing berlaku sedemikian dan banyak yang memang sangat peduli dan menjadi Indonesianis sejati, tapi kenapa yang saya temui disini hanya sedikit yang seperti itu?

Untuk melihat kapasitas dan kemampuan para pekerja asing, saya ingin memberi contoh seorang mantan rekan kerja saya, orang Indonesia, yang tidak diperpanjang kontraknya ditempat kami bekerja dan tempat kerja berikutnya karena memang tidak bisa bekerja dengan baik namun sekarang menjadi salah seorang tenaga ahli di negara berkembang lainnya, hal ini membuat saya semakin tidak mengerti, bagaimana sebuah organisasi dapat melihat kecakapan dan komitmen seseorang terhadap pekerjaannya, apakah dengan referensi kerja sana sini membuat mereka menjadi ahli, apakah organisasi pernah bertanya apa yang telah mereka lakukan dan tinggalkan di suatu negara yang program tersebut masih berlangsung dengan baik hingga hari ini. Sebagai seorang expatriate tentunya banyak keuntungan yang akan diperolehnya, selain gaji yang tentunya sangat besar, keuntungan-keuntungan lain seperti tunjangan dan asuransi ini itu tentunya akan membuat kantong mereka menjadi lebih gembung. Dengan sumber daya yang sangat besar diinvestasikan untuk para expatriate itu apakah dapat menjamin bahwa semua program akan berjalan dengan sukses dan berkelanjutan, dengan kata lain berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat setempat? Ketika uang organisasi tersebut telah habis terkuras untuk program-program yang kadang kala absurd tadi, apakah mereka masih peduli dengan nasib masyarakat yang akan ditinggalkan?
Mengutip kembali sebuah kalimat dalam artikel Prof Siapno bahwa Timor Leste dan Aceh sekarang menjadi "open bazaar" untuk dunia international dengan lembaga asing sedang asyik bermain sebagai 'Tuhan' dengan masa kerja yang terbatas.

Artikel dari Prof Siapno ini kemudian saya kirimkan ke seluruh rekan kerja lokal di tempat saya bekerja dengan menyisipkan kalimat “tulisan yang bagus untuk kita merefleksikan diri sendiri, sudah berbuat apa dengan gaji besar yang kita diterima? apakah target orgasisasi yang berakhir tahun 2010 akan bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di aceh atau hanya kesejahteraan kita sebagai karyawan setelah habis masa kontraknya? seberapa oportuniskah kita?"

Sebuah permenungan akhir pekan yang membawa saya pada kesadaran bahwa saya ternyata seorang oportunis, yang masih bersedia menjadi ‘keset’ bagi para pekerja asing yang saya sadari tidak jelas manfaat programnya bagi masyarakat… haruskah saya bertahan dengan idealisme atau menyerah tunduk pada tuntutan duniawi (uang-red)?

-Tulisan ini dibuat berdasarkan observasi terhadap lingkungan yang ada disekitar saya dengan tidak berusaha mengeneralisir seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Aceh-

Thursday, April 20, 2006

Humanitarian Worker (Part 1 – The Local Worker)

Humanitarian aid is aid provided for humanitarian purposes, typically on an urgent basis as a form of emergency management in response to a humanitarian crisis . The primary objective of humanitarian aid is to save lives, alleviate suffering, and maintain human dignity. (source wikipedia)

Mengutip definisi wikipedia diatas hanya sekedar ingin memberikan gambaran tentang tujuan mulia dari para pekerja bantuan kemanusiaan di seluruh bagian dunia yang sedang tertimpa bencana, dimana sejatinya para pekerja bantuan kemanusiaan itu bekerja untuk menyelamatkan hidup, mengentaskan penderitaan dan menjaga harga diri manusia, para korban dalam hal ini.

Terlepas dari kerja besar tersebut, timbul pertanyaan besar di benak saya, apakah para pekerja kemanusiaan itu memang berhati mulia atau hanya sekedar para oportunis pencari keuntungan atau keharuman nama diatas penderitaan para korban?
Sebagai sumber yang sangat bisa dipercaya, dengan berat hati saya harus mengungkapkan diawal bahwa saya adalah salah satu dari sekian banyaknya para pekerja yang berjubel di Aceh pada saat ini. Dan dipercayai atau tidak, tujuan awal saya datang ke Aceh adalah simply ingin membantu orang yang membutuhkan, niatnya ingin menjadi relawan bagi organisasi yang mau menerima saya dengan kemampuan apapun yang bisa disumbangkan. Sebelumnya, saya tidak pernah langsung terjun dalam pekerjaan serupa, meskipun sudah lebih dari 4 tahun tergabung dalam 2 LSM yang berbeda, tapi saya tidak lebih dari sekedar pemain belakang layar. Butuh waktu lebih dari 3 minggu setelah tsunami terjadi untuk bertanya-tanya ke semua organisasi yang mau menerima saya sebelum akhirnya organisasi tempat saya bekerja sekarang menawarkan pekerjaan kepada saya, pekerjaan yang tetap, bukan menjadi relawan. Tidak ingin kehilangan kesempatan kedua kalinya, setelah ide untuk pergi ke Irak mentah-mentah ditolak oleh kedua orang tua saya (dan ketakutan saya tidak adanya WC bersih di Irak, oops!) akhirnya sayapun menjadi salah satu dari ribuan emergency response staff yang mengalir ke Aceh.

Dana jutaan dollar yang mengalir ke Aceh mengalir pula ke kantong-kantong para pekerja kemanusiaan ini, baik yang datang dari Indonesia atau para expatriat. Pertama kali menerima surat penawaran dari kantor saya bekerja, saya tercekat, sebanyak inikah yang akan saya terima? Kenyataan yang terjadi dilapangan lebih mencengangkan lagi, adanya benefit ini itu demi alasan resiko membuat angka-angka di tabungan saya semakin membesar. Bukannya saya tidak mensyukuri (saya malah sangat bersyukur, keinginan untuk melanjutkan sekolah atau membeli rumah sendiri semakin bisa tercapai), tapi dengan pendapatan yang sedemikian besarnya, maka semakin besar pula kecenderungan untuk menghabiskannya (ironis bukan?)

Dibagian ini saya ingin bercerita tentang para pekerja kemanusiaan lokal, termasuk saya dan rekan-rekan saya yang sudah berdiam lebih kurang satu tahun sejak tsunami menimpa. Dalam 6 bulan terakhir ini, perkembangan aceh sungguh dahsyat, bukan dalam hal rekonstruksi atau pembangunan bagi korban yang nyata-nyata masih banyak tinggal dalam tenda-tenda kumuh berusia lebih dari satu tahun, tapi perkembangan yang inigin saya utarakan disini adalah perkembangan kehidupan sosial para pekerja kemanusiaan tadi.
Sekarang guest house milik organisasi bukan lagi tempat yang paling nyaman untuk relaksasi (dulu, banyak pesta atau gathering dibuat oleh organisasi bagi staff-nya sebagai bagian dari stress reliever), café dan restaurant dengan menu import makin bertebaran diseluruh kota Banda Aceh khususnya. Sebut saja caswell coffee (frachise dari caswell’s mom – kemang, Jakarta), pizza house (tiruan pizza hut yang sukses dalam rasa dan gaya), paco bene (restoran italia terkini yang menjadi tempat hangout paling gres dengan chef import jebolan hotel shangrilla) hingga 3 cabang country steak house dan tempat-tempat sejenis yang masih terus dibangun. Menilik kedalam tempat-tempat itu, maka yang akan kita dapati adalah orang-orang dengan seragam, peneng (name tag) dan atribut-atribut organisasi tertentu, khususnya organisasi seperti UN dan NGO international, jarang sekali saya temui orang lokal yang masuk ke dalam tempat-tempat ini untuk ikut berbaur.

Saya bukan ingin mengkritisi perkembangan tempat-tempat kongkow tersebut yang sebenarnya amat saya syukuri keberadaannya, tapi saya hanya ingin berkeluh kesah akan sulitnya mencari teman yang mau saya ajak nongkrong ditempat-tempat biasa. Dengan adanya tempat-tempat kumpul yang lebih modern dan akomodatif akan kebutuhan orang asing tadi, maka keude (kedai-red) kopi atau kios martabak telor dan nasi goreng kini sering saya datangi sendiri tanpa ditemani rekan senasib sepenanggungan lainnya. Dengan alasan kenyamanan dan cita rasa internasional yang lebih pas di lidah, semakin sedikit rekan-rekan saya yang mau ikut ‘keringetan’ di tempat-tempat para commoner tadi, walaupun harus kehilangan ektra 5 -10 kali lipat uang yang semestinya dihabiskan, hal tersebut rupanya tidak menjadi masalah.
Yang menjadi pertanyaan saya, apakah dengan bekerja, berbaur dan berinteraksi dengan orang asing (plus gaji dalam kurs dollar yang cukup menggiurkan) membuat kita merubah gaya hidup kita? Atau apakah euphoria gaji besar membuat kita ingin mensejajarkan diri kita dengan para expatriat, dengan mengikuti selera mereka misalnya? Ataukah karena memang kita ini seperti OKB (orang kaya baru) yang tiba-tiba mendapatkan limpahan rizki yang begitu besar sehingga berlomba-lomba untuk meraguk kenyamanan dan kenikmatan yang mungkin sebelumnya adalah barang langka? Banyak hal lain yang masih tidak bisa saya mengerti dengan keadaan ini, maklumlah.. saya ini masih junior dalam dunia baru ini, makanya tidak heran kiranya jika banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan, terutama jika tidak sesuai dengan kata hati.

Sekarang saya jadi merenung sendiri, jika memang kiranya bantuan kemanusiaan itu diperuntukan untuk korban yang notabene adalah para warga lokal, kenapa justru hidup kita jauh dari mereka? bagaimana kita tau apa yang mereka butuhkan?
Sekarang dahi saya mulai berkerut tanda penat… isyarat saya membutuhkan satu gelas kopi Aceh untuk sore yang teduh ini

-Tulisan ini dibuat berdasarkan observasi terhadap lingkungan yang ada disekitar saya dengan tidak berusaha mengeneralisir seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Aceh-

The Train Affair

"pakabar bu?"
"hi, baik gue! tumben ym, kemana aja sih?"
"masih di aceh, sibuk banget gue... udah hamil berapa bulan sekarang?"
"udah hampir 4 bulan, makanya pulang dong! betah benerr..."
"iya nih, gimana roker* yang lain? pada hamil juga ga?"
"wah ketinggalan berita lo, sekarang udah pada lahiran, tinggal gue nih yang bumil (ibu hamil-red), si wida aja sekarang lagi cuti hamil"
"masa sih? emang dia udah hamil lagi?"
"hehehe... lo emang udah kelamaan gak jadi roker sih ya, ga update..."
*roker = rombongan kereta
***
Itulah sepenggal percakapan IM saya dengan Dija, teman adik saya yang kemudian menjadi salah satu teman baik saya karena seringnya bertemu di kereta Cisadane Express jurusan Tangerang - Dukuh Atas, Sudirman. Terakhir kali saya bertemu dija, dia masih lajang yang sedang sibuk mengurus persiapan pernikahannya.
Kereta buat orang-orang seperti saya dan dija, yang waktu kerjanya sudah ditentukan dari jam delapan pagi hingga jam lima sore, adalah alternatif terbaik untuk dapat mencapai ibukota dengan cepat dan quite reliable, bandingkan dengan alat transportasi lainnya di Jakarta yang sangat tidak jelas kapan waktu berangkat dan tibanya. Lebih dari satu tahun, setelah memutuskan untuk tidak lagi nge-kos, saya dan teman-teman lain seperti dija, plus sebagian penduduk Tangerang yang 'merumput' di Jakarta, memang menjadi penghuni tetap kereta eksekutif seharga delapan ribu rupiah per trip ini. Awalnya sangat sulit untuk saya bisa menerima kebersamaan dan pertemanan 'terpaksa' ini dengan cenderung diam, membaca buku atau (pura-pura) tidur, namun dengan 'kegigihan' dija yang terus mengajak saya berbicara, akhirnya saya mulai merespon pertanyaan-pertanyaannya hingga kami terlibat dalam percakapan yang sebenarnya (baca: bukan basa-basi). Hal itu ternyata membuat suasana di gerbong kereta yang dingin (karena AC yang full power) bisa menjadi lebih cair dan menyenangkan. Dija memang orang yang talkative, sepertinya hampir semua penumpang dari gerbong satu yang biasa kami tempati hingga gerbong terakhir mengenalnya, kesupelannya patut saya ancungi jempol. Dari dija-lah saya mengenal banyak orang dan orang-orang lainnya di kereta yang pada akhirnya kami secara tidak sadar telah membentuk sebuah komunitas tersendiri, komunitas roker (rombongan kereta-red).
Awalnya saya tidak percaya bahwa kereta dapat menjadi ajang kehidupan sosial para pekerja kelas menengah-bawah seperti saya, namun pandangan itu mulai berubah ketika melihat realita tentang manusia penghuni kereta itu satu demi satu mulai terbuka. Si A ternyata seorang manager di perusahaan konsultan IT yang lumayan besar dengan frekuensi perjalanan keluar negeri yang cukup sering (tak lupa oleh-oleh untuk para roker) yang memilih kereta ketimbang menyetir di jalan tol yang tidak pernah lengang. Teman saya B yang manis ternyata seorang pencinta buku dengan wawasan yang sangat luas yang selalu antusias untuk memberikan review buku-buku terbaru. Perselingkuhan X dan Y yang sama-sama telah berkeluarga atau masalah dija yang sedang dijatuhi cinta dan banyak cerita-cerita lainnya semua terungkap di kereta. Belum lagi sesi curhat sesama roker dan kisah sukses C berjualan makanan bagi penghuni kereta yang mulanya hanya berawal dari pesanan susu kacang hijau hingga sesi hang out bareng dan buka puasa bersama pernah menghiasi satu episode kehidupan saya.
Jika melihat kembali pengalaman pribadi saya, menjadi komuter sejati sepertinya sudah menjadi garisan tangan, tidak hanya Tangerang - Jakarta saja yang harus saya lalui setiap hari, rute Uppsala - Stockholm (Swedia), Clementi - Orchard (Singapore) hingga Breda - Tillburg (Belanda) juga pernah menjadi bagian dari pengalaman saya berkomuter ria. Dan walaupun sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya 'keluar' dari keanggotaan roker Cisadane Express, tapi sepenggal pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran bagi saya untuk lebih mengenal beragam jenis manusia dan problematikanya.
Sekarang saya sedang membayangkan berapa banyak waktu dalam hidup saya yang telah saya habiskan HANYA di jalan-jalan dunia itu... mmm...

Just Kartini

Sehubungan dengan perayaan hari Kartini tanggal 21 Februari besok, saya sedikit tergelitik untuk urun pendapat tentang sosok Kartini dimata saya yang mungkin selama ini tidak pernah terfikirkan karena sosoknya lebih banyak terkamuflase dengan lomba peragaan baju-baju daerah, jawa khususnya, bagi adik-adik di TK, SD, SMP maupun SMA.

Siapakah Kartini itu?
Baru kali ini saya harus berfikir lama sebelum dapat menjawab siapa wanita yang ditasbihkan sebagai pejuang emansipasi wanita Indonesia ini, terus terang saya tergerak untuk membaca beberapa referensi tentang kartini agar dapat menempatkan opini saya pada porsi yang wajar, salah satunya adalah buku biografi Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Saya tidak pernah mengidolakan kartini ketika masih bersekolah di sekolah dasar maupun menengah, tidak seperti sebagian teman-teman perempuan sekelas dan sepermainan lainnya. Buat saya kartini menyusahkan… bagaimana tidak? hanya untuk memperingati hari Kartini setiap tahunnya, mau tidak mau saya harus ikut perlombaan busana tradisional baik di sekolah maupun di lingkungan rumah, hal yang sangat mengesalkan untuk anak yang cenderung tomboy seperti saya.

Namun semakin saya beranjak dewasa, lambat laun kekaguman akan sosok kartini mulai terbuka sejalan dengan mulai terbukanya cakrawala berfikir saya. Ditengah segala keterbatasan pada masanya, pandangan kartini sudah dapat menginspirasi pemikiran manusia modern sekalipun. Saya sangat menyayangkan bahwa sosok kartini saat ini tidak lebih dari sekedar simbol perjuangan yang kehilangan nilai simbolisnya, bahkan sosoknya pernah dianalogikan hanya sebagai sebuah lukisan indah yang dipasang di museum.

Berikut beberapa hal yang membuat saya mengagumi, tapi bukan mengidolakan, sosok perempuan bernama kartini ini:

  • Humanis. Walaupun dilahirkan dan besar dikalangan istana yang jauh dari kehidupan jelata ternyata tidak menghilangkan empati kartini atas penderitaan rakyatnya. Melalui caranya sendiri, dia sudah berani mengutarakan kegeramannya atas feodalisme yang terjadi di tanah Jawa pada masa itu, sekalipun dia memiliki hubungan yang dekat dengan pemerintah Hindia Belanda.
  • Bangga menjadi pribumi. Keheranan kartini atas orang-orang pribumi yang (bertingkah) menjadi orang barat hanya karena mereka mendapatkan pendidikan barat, bertingkah laku serta berpakaian ala barat ini jugalah yang menjadi keprihatinan saya terhadap keadaan orang-orang Indonesia pada saat ini. Mengapa kita sangat bangga menjadi orang lain yang bukan diri kita sendiri? Padahal tidak kita mendapatkan penghormatan tertinggi jika bukan di negara kita sendiri (“Aku yakin, bahwa tiada sampai seperempat perhatian orang kepada kami, sekiranya kami menanggalkan kebaya dan sarung dan menggantinya dengan japon; membuang nama Jawa kami dan menggantinya dengan nama Belanda, serta mengganti darah Jawa yang mengalir di sekujur nadi dengan darah Eropa” – surat tertanggal 9 January 1901)
  • Percaya agama adalah untuk memberikan kedamaian, bukan keonaran. Disalah satu suratnya tertanggal 6 Nopember 1899 kepada sahabatnya Estelle Zeehandelaar dia menulis “Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agamapun diatas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad yang telah lewat menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu muncul dalam hatiku yang ragu. Agama yang seharusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu!”
  • Pro pendidikan. Saya tidak perlu berpanjang-panjang mengenai hal ini, karena inilah mainstream perjuangan kartini yang kerap diperbincangkan.

Bagaimanapun tetap kartini adalah kontroversi terbesar abad ini, dengan mengatasnamakan kartini, banyak wanita yang terinspirasi berjuang demi terciptanya emansipasi yang berujung pada perjuangan akan terciptanya kesetaraan gender. Namun bagi saya kartini adalah hanya seorang kartini, manusia biasa dengan segala fitrahnya, yang akhirnya tunduk pada pengabdian dan kasih sayang kepada orang tua sehingga rela dinikahkan, suatu hal yang sebenarnya sangat saya kagumi diatas semua alasan diatas.

Kartini hanyalah seorang kartini…seperti dia ingin dipanggil.

Tuesday, April 18, 2006

First Posting

Setelah melewati banyak peristiwa dalam hidup yang sebenarnya 'datar-datar' saja, akhirnya keberanian itu muncul untuk memutar kembali rekaman kehidupan yang sudah terjadi di belakang dan menuangkannya dalam tulisan... dan semua gagasan yang muncul di kepala pada waktu-waktu yang tidak biasa yang sayang rasanya untuk dibiarkan begitu saja.

posting pertama ini dibuat di banda aceh, tepatnya 1 tahun 3 bulan dan 23 hari setelah bencana tsunami menerjang kota timphan ini (timphan: Jajan pasar khas Aceh terbuat dari pisang raja dan tepung ketan dengan isi kelapa parut yang diaduk dengan telur atau sarikaya dan dibungkus daun pisang muda). Kenapa timphan? karena saya seorang penikmat makanan, boleh dibilang seorang penjelajah kuliner namun tidak dapat menilai tingkat kelezatan suatu makanan. Bagi saya, effort untuk membuat sesuatu menjadi layak makan sudah cukup untuk saya memberikan apresiasi kepada si pencipta makanan tersebut, yang membuat saya nyaris menjadi manusia pemakan segala... Saya layaknya seorang lelaki yang sangat visual ketika melihat wanita terhadap segala bentuk makanan, mungkinkah ini addiction? bagi saya inilah passion...

sudah lebih dari 1 tahun saya berada di kota ini, untuk apa? well, orang menyebutnya humanitarian worker/pekerja kemanusiaan, tapi hingga saat ini saya masih belum seutuhnya menemukan nilai-nilai kemanusiaan dalam pekerjaan yang saya geluti, semua praktis bicara tentang kebijakan, budget, segala bentuk laporan, politik kekuasaan dan blah..blah..blah.. walaupun di akhir hari memang ada orang-orang yang mendapatkan manfaat dari pekerjaan yang saya lakukan, tapi saya tahu bahwa mereka tidak lebih dari sekedar angka di dalam laporan-laporan kami, it is so not advance humanity...

tapi diluar semua itu, segala pengalaman ini memang tak tergantikan... waktu yang telah saya habiskan di kota ini cukup untuk mengingatkan saya akan tujuan hidup dan semangat berkarya, dan itulah salah satu esensi kehidupan... life indispensable!