Thursday, April 20, 2006

Just Kartini

Sehubungan dengan perayaan hari Kartini tanggal 21 Februari besok, saya sedikit tergelitik untuk urun pendapat tentang sosok Kartini dimata saya yang mungkin selama ini tidak pernah terfikirkan karena sosoknya lebih banyak terkamuflase dengan lomba peragaan baju-baju daerah, jawa khususnya, bagi adik-adik di TK, SD, SMP maupun SMA.

Siapakah Kartini itu?
Baru kali ini saya harus berfikir lama sebelum dapat menjawab siapa wanita yang ditasbihkan sebagai pejuang emansipasi wanita Indonesia ini, terus terang saya tergerak untuk membaca beberapa referensi tentang kartini agar dapat menempatkan opini saya pada porsi yang wajar, salah satunya adalah buku biografi Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Saya tidak pernah mengidolakan kartini ketika masih bersekolah di sekolah dasar maupun menengah, tidak seperti sebagian teman-teman perempuan sekelas dan sepermainan lainnya. Buat saya kartini menyusahkan… bagaimana tidak? hanya untuk memperingati hari Kartini setiap tahunnya, mau tidak mau saya harus ikut perlombaan busana tradisional baik di sekolah maupun di lingkungan rumah, hal yang sangat mengesalkan untuk anak yang cenderung tomboy seperti saya.

Namun semakin saya beranjak dewasa, lambat laun kekaguman akan sosok kartini mulai terbuka sejalan dengan mulai terbukanya cakrawala berfikir saya. Ditengah segala keterbatasan pada masanya, pandangan kartini sudah dapat menginspirasi pemikiran manusia modern sekalipun. Saya sangat menyayangkan bahwa sosok kartini saat ini tidak lebih dari sekedar simbol perjuangan yang kehilangan nilai simbolisnya, bahkan sosoknya pernah dianalogikan hanya sebagai sebuah lukisan indah yang dipasang di museum.

Berikut beberapa hal yang membuat saya mengagumi, tapi bukan mengidolakan, sosok perempuan bernama kartini ini:

  • Humanis. Walaupun dilahirkan dan besar dikalangan istana yang jauh dari kehidupan jelata ternyata tidak menghilangkan empati kartini atas penderitaan rakyatnya. Melalui caranya sendiri, dia sudah berani mengutarakan kegeramannya atas feodalisme yang terjadi di tanah Jawa pada masa itu, sekalipun dia memiliki hubungan yang dekat dengan pemerintah Hindia Belanda.
  • Bangga menjadi pribumi. Keheranan kartini atas orang-orang pribumi yang (bertingkah) menjadi orang barat hanya karena mereka mendapatkan pendidikan barat, bertingkah laku serta berpakaian ala barat ini jugalah yang menjadi keprihatinan saya terhadap keadaan orang-orang Indonesia pada saat ini. Mengapa kita sangat bangga menjadi orang lain yang bukan diri kita sendiri? Padahal tidak kita mendapatkan penghormatan tertinggi jika bukan di negara kita sendiri (“Aku yakin, bahwa tiada sampai seperempat perhatian orang kepada kami, sekiranya kami menanggalkan kebaya dan sarung dan menggantinya dengan japon; membuang nama Jawa kami dan menggantinya dengan nama Belanda, serta mengganti darah Jawa yang mengalir di sekujur nadi dengan darah Eropa” – surat tertanggal 9 January 1901)
  • Percaya agama adalah untuk memberikan kedamaian, bukan keonaran. Disalah satu suratnya tertanggal 6 Nopember 1899 kepada sahabatnya Estelle Zeehandelaar dia menulis “Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agamapun diatas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad yang telah lewat menjadi biang keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam. Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu muncul dalam hatiku yang ragu. Agama yang seharusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu!”
  • Pro pendidikan. Saya tidak perlu berpanjang-panjang mengenai hal ini, karena inilah mainstream perjuangan kartini yang kerap diperbincangkan.

Bagaimanapun tetap kartini adalah kontroversi terbesar abad ini, dengan mengatasnamakan kartini, banyak wanita yang terinspirasi berjuang demi terciptanya emansipasi yang berujung pada perjuangan akan terciptanya kesetaraan gender. Namun bagi saya kartini adalah hanya seorang kartini, manusia biasa dengan segala fitrahnya, yang akhirnya tunduk pada pengabdian dan kasih sayang kepada orang tua sehingga rela dinikahkan, suatu hal yang sebenarnya sangat saya kagumi diatas semua alasan diatas.

Kartini hanyalah seorang kartini…seperti dia ingin dipanggil.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home