Wednesday, June 14, 2006

Keep Bandung Beautiful, euy!

Pekan lalu, setelah perdebatan panjang dengan atasan saya atas hak cuti saya, akhirnya kesampaian juga niatan saya untuk mengunjungi kota Bandung. Terakhir saya datang kesini adalah tepat hari pertama lebaran Idul Fitri lalu, yang merupakan tradisi lebaran dalam keluarga kami karena nenek kami memang tinggal di kota ini.

Bebarapa waktu belakangan ini banyak berita negatif tentang kota ini yang dikatakan tidak dapat menanggulangi permasalahan sampah dikotanya, dimana hampir di tiap sudut kota terdapat gunungan sampah yang kian membusuk dan banyak dihinggapi lalat hingga belatung... iyy! Tapi berdasarkan pengamatan saya kemarin, ternyata gunungan sampah jarang saya temui, terutama di jalan-jalan protokolnya, namun bila kita masuk lebih dalam ke daerah-daerah pemukiman, maka gundukan-gundukan sampah masih banyak ditemui. Yang cukup menggelitik bagi saya, di salah satu sudut kota, di depan kantor gubernur lebih tepatnya, saya menemukan sebuah spanduk yang menyatakan rasa terima kasih dari sebuah organisasi massa kepada Pak Walikota Bandung untuk keberhasilannya menangani masalah sampah di kota Paris van Java itu. Yang menjadi pertanyaan saya sekarang, menangani yang bagaimana? apakah pak walikota punya jawaban konkrit untuk mengatasi sampah yang ada di kota bandung, atau hanya memindahkan masalah ke daerah lain yang menjadi tempat pembuangan akhir (TPA)?

Sampah seperti saya fahami merupakan masalah bersama, bukan cuma masalah pemerintah saja, setiap orang bertanggung jawab menjaga kebersihan dan mencari solusi atas masalah ini. Bila kita sudah membayar biaya kebersihan bukan berarti tanggung jawab itu selesai. Saya teringat salah satu sahabat saya yang saya temui di awal perjalanan pulang saya kali ini, pada perjumpaan kami di salah satu gerai minum kopi ternama, ia memesan sari buah plus remahan es, namun tidak seperti orang kebanyakan , ia tidak mau lagi menggunakan sedotan dan lebih memilih untuk meneguk minuman tersebut langsung dari gelasnya, glek! Menurutnya memakai sedotan hanya akan menambah tumpukan sampah di kota. Sebuah hal yang menakjubkan untuk saya, jika saja ada 10 juta individu yang memiliki kesadaran sedemikian, maka negara ini mungkin akan menjadi sedikit lebih bersih dan nyaman.

Kembali ke kota bandung, sepertinya akan lebih bijak bila para pemikir yang ada di universitas-universitas ternama di kota itu dapat membuat suatu sistem pembuangan sampah yang integral dengan sosialisasi pada masyarakat untuk (mungkin) memisahkan dan mengurangi konsumsi barang yang cuma akan menjadi sampah. Dan jika hal tersebut bisa berhasil maka dapat ditularkan ke kota-kota lainnya… Ah, seandainya! Dream is only the beginning of reality...

Thursday, June 01, 2006

Back to School

"A school should be a community and not just a knowledge factory"

Sahabat atau rekan saya tentunya langsung mengenali kalimat diatas secara ia selalu timbul dalam semua email yang dikirimkan dari alamat email kantor saya bekerja sekarang. Ya, kalimat tersebut saya jadikan signature dalam semua surat keluar saya.

Berawal dari sebuah email dari salah satu sahabat saya mengenai Prof Satish Kumar, seorang penggagas dan pendiri small school* di Hartland Devon Inggris yang merupakan cikal bakal dari movement for human scale education, membuat saya tergerak untuk menjadikan salah satu penggalan kalimat yang diucapkan biksu aliran jainisme ini menjadi tagline saya. Selain mengagumi kerendahan hati dan kematangan berfikirnya, tentunya banyak yang setuju dengan saya bahwa kata-kata yang diucapkannya juga sangat bijak.

Saya termasuk orang yang telat masuk dunia akademis, tapi perjalanan hidup saya membuktikan bahwa ternyata tidak melulu pendidikan formal yang dapat menjamin keberhasilan seseorang, Saya baru memulai pendidikan di universitas setelah malang-melintang dalam ‘dunia professional’ selama 6 tahun, well… 4 tahun lebih tepatnya karena dipotong masa kuliah untuk mengambil diploma selama 2,5 tahun, itupun bukan di universitas ternama. Dan dalam kurun waktu 4 tahun berikutnya saya harus bekerja keras mengeksploitasi kapasitas otak dan tenaga saya untuk dapat menyelesaikan kuliah, karena beban pekerjaan ternyata juga meminta porsi yang besar. Tak dinyana, tidak lama setelah kelulusan saya mendapatkan lompatan promosi yang cukup mengesankan.

Banyak yang saya syukuri dari ‘keberanian’ saya untuk tidak mengambil jalur akademis normal sebagai pilihan utama (ie. lulus SMA, kuliah, kuliah S2 dst) karena ternyata perjalanan hidup saya di sana sini merupakan sekolah tumbuh paling aplikatif yang kesempatannya tidak dimiliki oleh semua orang. Beberapa sahabat saya yang dulu bersama-sama memulai karir setelah lulus sekolah masih banyak yang berada dalam posisi kerja yang tidak banyak berbeda dari awal kita memulainya, walaupun banyak dari mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan strata lanjutannya. Mungkinkah ini yang dinamakan garisan tangan?

Diluar semua pencapaian itu, keinginan untuk melanjutkan sekolah sepertinya sudah menjadi tujuan hidup saya selanjutnya. Kepala ini sering penuh sesak dengan khayalan berada di suatu negara raya di belahan dunia lain, yang hijau kala musim panas tiba atau bersemu coklat keemasan menyambut musim gugur, dan menjadi bagian dari manusia yang bisa mengapresiasi ilmu pengetahuan. Semoga istilah tiada kata terlambat juga berlaku dalam kamus kehidupan saya…

*Founded in September1982 by Satish Kumar in Hartland Devon. It is a secondar school (age 11-16). Satish Kumar, who also founded Resurgence magazine lived in a rural village and did not want to send his 10 year old son to the school in the nearest town. The Small School is known for its pupils growing cooking and serving their own lunch. The Small School began with 8 children which grew to 35 - Wikipedia