Humanitarian Worker (Part 1 – The Local Worker)
Mengutip definisi wikipedia diatas hanya sekedar ingin memberikan gambaran tentang tujuan mulia dari para pekerja bantuan kemanusiaan di seluruh bagian dunia yang sedang tertimpa bencana, dimana sejatinya para pekerja bantuan kemanusiaan itu bekerja untuk menyelamatkan hidup, mengentaskan penderitaan dan menjaga harga diri manusia, para korban dalam hal ini.
Terlepas dari kerja besar tersebut, timbul pertanyaan besar di benak saya, apakah para pekerja kemanusiaan itu memang berhati mulia atau hanya sekedar para oportunis pencari keuntungan atau keharuman nama diatas penderitaan para korban?
Sebagai sumber yang sangat bisa dipercaya, dengan berat hati saya harus mengungkapkan diawal bahwa saya adalah salah satu dari sekian banyaknya para pekerja yang berjubel di Aceh pada saat ini. Dan dipercayai atau tidak, tujuan awal saya datang ke Aceh adalah simply ingin membantu orang yang membutuhkan, niatnya ingin menjadi relawan bagi organisasi yang mau menerima saya dengan kemampuan apapun yang bisa disumbangkan. Sebelumnya, saya tidak pernah langsung terjun dalam pekerjaan serupa, meskipun sudah lebih dari 4 tahun tergabung dalam 2 LSM yang berbeda, tapi saya tidak lebih dari sekedar pemain belakang layar. Butuh waktu lebih dari 3 minggu setelah tsunami terjadi untuk bertanya-tanya ke semua organisasi yang mau menerima saya sebelum akhirnya organisasi tempat saya bekerja sekarang menawarkan pekerjaan kepada saya, pekerjaan yang tetap, bukan menjadi relawan. Tidak ingin kehilangan kesempatan kedua kalinya, setelah ide untuk pergi ke Irak mentah-mentah ditolak oleh kedua orang tua saya (dan ketakutan saya tidak adanya WC bersih di Irak, oops!) akhirnya sayapun menjadi salah satu dari ribuan emergency response staff yang mengalir ke Aceh.
Dana jutaan dollar yang mengalir ke Aceh mengalir pula ke kantong-kantong para pekerja kemanusiaan ini, baik yang datang dari Indonesia atau para expatriat. Pertama kali menerima surat penawaran dari kantor saya bekerja, saya tercekat, sebanyak inikah yang akan saya terima? Kenyataan yang terjadi dilapangan lebih mencengangkan lagi, adanya benefit ini itu demi alasan resiko membuat angka-angka di tabungan saya semakin membesar. Bukannya saya tidak mensyukuri (saya malah sangat bersyukur, keinginan untuk melanjutkan sekolah atau membeli rumah sendiri semakin bisa tercapai), tapi dengan pendapatan yang sedemikian besarnya, maka semakin besar pula kecenderungan untuk menghabiskannya (ironis bukan?)
Dibagian ini saya ingin bercerita tentang para pekerja kemanusiaan lokal, termasuk saya dan rekan-rekan saya yang sudah berdiam lebih kurang satu tahun sejak tsunami menimpa. Dalam 6 bulan terakhir ini, perkembangan aceh sungguh dahsyat, bukan dalam hal rekonstruksi atau pembangunan bagi korban yang nyata-nyata masih banyak tinggal dalam tenda-tenda kumuh berusia lebih dari satu tahun, tapi perkembangan yang inigin saya utarakan disini adalah perkembangan kehidupan sosial para pekerja kemanusiaan tadi.
Sekarang guest house milik organisasi bukan lagi tempat yang paling nyaman untuk relaksasi (dulu, banyak pesta atau gathering dibuat oleh organisasi bagi staff-nya sebagai bagian dari stress reliever), café dan restaurant dengan menu import makin bertebaran diseluruh kota Banda Aceh khususnya. Sebut saja caswell coffee (frachise dari caswell’s mom – kemang, Jakarta), pizza house (tiruan pizza hut yang sukses dalam rasa dan gaya), paco bene (restoran italia terkini yang menjadi tempat hangout paling gres dengan chef import jebolan hotel shangrilla) hingga 3 cabang country steak house dan tempat-tempat sejenis yang masih terus dibangun. Menilik kedalam tempat-tempat itu, maka yang akan kita dapati adalah orang-orang dengan seragam, peneng (name tag) dan atribut-atribut organisasi tertentu, khususnya organisasi seperti UN dan NGO international, jarang sekali saya temui orang lokal yang masuk ke dalam tempat-tempat ini untuk ikut berbaur.
Saya bukan ingin mengkritisi perkembangan tempat-tempat kongkow tersebut yang sebenarnya amat saya syukuri keberadaannya, tapi saya hanya ingin berkeluh kesah akan sulitnya mencari teman yang mau saya ajak nongkrong ditempat-tempat biasa. Dengan adanya tempat-tempat kumpul yang lebih modern dan akomodatif akan kebutuhan orang asing tadi, maka keude (kedai-red) kopi atau kios martabak telor dan nasi goreng kini sering saya datangi sendiri tanpa ditemani rekan senasib sepenanggungan lainnya. Dengan alasan kenyamanan dan cita rasa internasional yang lebih pas di lidah, semakin sedikit rekan-rekan saya yang mau ikut ‘keringetan’ di tempat-tempat para commoner tadi, walaupun harus kehilangan ektra 5 -10 kali lipat uang yang semestinya dihabiskan, hal tersebut rupanya tidak menjadi masalah.
Yang menjadi pertanyaan saya, apakah dengan bekerja, berbaur dan berinteraksi dengan orang asing (plus gaji dalam kurs dollar yang cukup menggiurkan) membuat kita merubah gaya hidup kita? Atau apakah euphoria gaji besar membuat kita ingin mensejajarkan diri kita dengan para expatriat, dengan mengikuti selera mereka misalnya? Ataukah karena memang kita ini seperti OKB (orang kaya baru) yang tiba-tiba mendapatkan limpahan rizki yang begitu besar sehingga berlomba-lomba untuk meraguk kenyamanan dan kenikmatan yang mungkin sebelumnya adalah barang langka? Banyak hal lain yang masih tidak bisa saya mengerti dengan keadaan ini, maklumlah.. saya ini masih junior dalam dunia baru ini, makanya tidak heran kiranya jika banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan, terutama jika tidak sesuai dengan kata hati.
Sekarang saya jadi merenung sendiri, jika memang kiranya bantuan kemanusiaan itu diperuntukan untuk korban yang notabene adalah para warga lokal, kenapa justru hidup kita jauh dari mereka? bagaimana kita tau apa yang mereka butuhkan?
Sekarang dahi saya mulai berkerut tanda penat… isyarat saya membutuhkan satu gelas kopi Aceh untuk sore yang teduh ini
-Tulisan ini dibuat berdasarkan observasi terhadap lingkungan yang ada disekitar saya dengan tidak berusaha mengeneralisir seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Aceh-


0 Comments:
Post a Comment
<< Home