Humanitarian Worker (Part 2 - The Expatriate)
Humanitarian aid is aid provided for humanitarian purposes, typically on an urgent basis as a form of emergency management in response to a humanitarian crisis. The primary objective of humanitarian aid is to save lives, alleviate suffering, and maintain human dignity – wikipedia
Setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Prof Jacqui Siapno yang berjudul “Banda Aceh is now Dili” yang mengkisahkan keheranannya tentang banyaknya orang-orang yang dulu ditemuinya di Dili kini hijrah ke Banda Aceh mengilhami saya untuk menulis bagian ini.
Setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Prof Jacqui Siapno yang berjudul “Banda Aceh is now Dili” yang mengkisahkan keheranannya tentang banyaknya orang-orang yang dulu ditemuinya di Dili kini hijrah ke Banda Aceh mengilhami saya untuk menulis bagian ini.
Ada suatu bagian yang sangat menarik untuk saya kutip dimana Prof Siapno, sebagai seorang pendidik yang pernah bertahun-tahun melakukan penelitian tentang Aceh, melihat Timor Leste dan Aceh seakan menjadi penyedia lapangan kerja bagi bagi orang asing yang mana seringkali para "expert/adviser" ini pintar memodifikasi suatu isu yang sebenarnya ludicrous (sesuatu yang sepele, tidak penting, bahkan lucu) menjadi dominan dan penting. Sehingga beliau dan rekan-rekannya kerap menamakan Aceh sebagai "humanitarian supermarket" atau "commodification of ideas" (penjualan komoditi ilmu dan pikiran) dengan para konsultan dan tenaga ahli asing itu sebagai agen sosialisasinya.
Melihat pengalaman saya di lapangan, apa yang dikatakan Prof Siapno memang tidak jauh dari kenyataan. Sering saya bertemu dengan rekan-rekan dari UN agency atau INGO lain yang usianya masih sangat muda tapi sudah menampuk kekuasaan yang lumayan besar. Berbincang-bincang dengan beberapa orang diantaranya semakin membuat saya tidak mengerti, mengapa orang yang tidak pernah tau dimana Aceh, atau Indonesia, itu berada bisa berada di Aceh dengan jabatan yang sebenarnya bisa diberikan kepada para pekerja lokal? Ada pekerja asing yang cukup senior bahkan kerap bersitegang dengan staff lokal karena mereka dianggap berleha-leha meninggalkan pekerjaan karena baru kembali ke kantor sekitar jam dua siang pada hari jumat (setelah sholat jumat yang mulai sekitar jam 1 siang), apakah mereka tidak tahu bahwa ada adat istiadat yang harus dihormati disini? Seperti juga yang dikatakan oleh Prof Siapno bahwa tidak semua "expert" itu sama, ada yang baik dan sangat teliti yang memang sangat berpengalaman dalam bidangnya dan juga menghormati nilai masyarakat setempat, tapi tentu saja ada yang hanya ingin mencari uang dan menambah pengalamannya di daerah konflik sekaligus meningkatkan kondite pribadi. Beberapa pengalaman saya di lapangan memang membuktikan itu.
Lalu seperti pertanyaan saya di bagian pertama, apakah para expatriate pekerja kemanusiaan itu memang berhati mulia atau hanya sekedar para oportunis pencari keuntungan diatas penderitaan para korban?
Salah satu bos saya pernah menanyakan kepada saya, “are those needy victim have a holiday?” ketika saya mengajukan jatah cuti saya yang memang hak saya. hah? lalu bagaimana dengan dia yang meninggalkan para korban itu selama dua minggu setiap dua bulan sekali untuk mengambil hak liburannya sebagai orang asing di negeri yang dianggap berbahaya. Beberapa staff senior lokal juga mengeluhkan banyaknya ketidakadilan yang harus mereka terima walaupun memegang jabatan yang sama penting dan berada dalam satu strata. Walaupun tidak semua pekerja asing berlaku sedemikian dan banyak yang memang sangat peduli dan menjadi Indonesianis sejati, tapi kenapa yang saya temui disini hanya sedikit yang seperti itu?
Untuk melihat kapasitas dan kemampuan para pekerja asing, saya ingin memberi contoh seorang mantan rekan kerja saya, orang Indonesia, yang tidak diperpanjang kontraknya ditempat kami bekerja dan tempat kerja berikutnya karena memang tidak bisa bekerja dengan baik namun sekarang menjadi salah seorang tenaga ahli di negara berkembang lainnya, hal ini membuat saya semakin tidak mengerti, bagaimana sebuah organisasi dapat melihat kecakapan dan komitmen seseorang terhadap pekerjaannya, apakah dengan referensi kerja sana sini membuat mereka menjadi ahli, apakah organisasi pernah bertanya apa yang telah mereka lakukan dan tinggalkan di suatu negara yang program tersebut masih berlangsung dengan baik hingga hari ini. Sebagai seorang expatriate tentunya banyak keuntungan yang akan diperolehnya, selain gaji yang tentunya sangat besar, keuntungan-keuntungan lain seperti tunjangan dan asuransi ini itu tentunya akan membuat kantong mereka menjadi lebih gembung. Dengan sumber daya yang sangat besar diinvestasikan untuk para expatriate itu apakah dapat menjamin bahwa semua program akan berjalan dengan sukses dan berkelanjutan, dengan kata lain berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat setempat? Ketika uang organisasi tersebut telah habis terkuras untuk program-program yang kadang kala absurd tadi, apakah mereka masih peduli dengan nasib masyarakat yang akan ditinggalkan?
Mengutip kembali sebuah kalimat dalam artikel Prof Siapno bahwa Timor Leste dan Aceh sekarang menjadi "open bazaar" untuk dunia international dengan lembaga asing sedang asyik bermain sebagai 'Tuhan' dengan masa kerja yang terbatas.
Artikel dari Prof Siapno ini kemudian saya kirimkan ke seluruh rekan kerja lokal di tempat saya bekerja dengan menyisipkan kalimat “tulisan yang bagus untuk kita merefleksikan diri sendiri, sudah berbuat apa dengan gaji besar yang kita diterima? apakah target orgasisasi yang berakhir tahun 2010 akan bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di aceh atau hanya kesejahteraan kita sebagai karyawan setelah habis masa kontraknya? seberapa oportuniskah kita?"
Sebuah permenungan akhir pekan yang membawa saya pada kesadaran bahwa saya ternyata seorang oportunis, yang masih bersedia menjadi ‘keset’ bagi para pekerja asing yang saya sadari tidak jelas manfaat programnya bagi masyarakat… haruskah saya bertahan dengan idealisme atau menyerah tunduk pada tuntutan duniawi (uang-red)?
-Tulisan ini dibuat berdasarkan observasi terhadap lingkungan yang ada disekitar saya dengan tidak berusaha mengeneralisir seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Aceh-
Melihat pengalaman saya di lapangan, apa yang dikatakan Prof Siapno memang tidak jauh dari kenyataan. Sering saya bertemu dengan rekan-rekan dari UN agency atau INGO lain yang usianya masih sangat muda tapi sudah menampuk kekuasaan yang lumayan besar. Berbincang-bincang dengan beberapa orang diantaranya semakin membuat saya tidak mengerti, mengapa orang yang tidak pernah tau dimana Aceh, atau Indonesia, itu berada bisa berada di Aceh dengan jabatan yang sebenarnya bisa diberikan kepada para pekerja lokal? Ada pekerja asing yang cukup senior bahkan kerap bersitegang dengan staff lokal karena mereka dianggap berleha-leha meninggalkan pekerjaan karena baru kembali ke kantor sekitar jam dua siang pada hari jumat (setelah sholat jumat yang mulai sekitar jam 1 siang), apakah mereka tidak tahu bahwa ada adat istiadat yang harus dihormati disini? Seperti juga yang dikatakan oleh Prof Siapno bahwa tidak semua "expert" itu sama, ada yang baik dan sangat teliti yang memang sangat berpengalaman dalam bidangnya dan juga menghormati nilai masyarakat setempat, tapi tentu saja ada yang hanya ingin mencari uang dan menambah pengalamannya di daerah konflik sekaligus meningkatkan kondite pribadi. Beberapa pengalaman saya di lapangan memang membuktikan itu.
Lalu seperti pertanyaan saya di bagian pertama, apakah para expatriate pekerja kemanusiaan itu memang berhati mulia atau hanya sekedar para oportunis pencari keuntungan diatas penderitaan para korban?
Salah satu bos saya pernah menanyakan kepada saya, “are those needy victim have a holiday?” ketika saya mengajukan jatah cuti saya yang memang hak saya. hah? lalu bagaimana dengan dia yang meninggalkan para korban itu selama dua minggu setiap dua bulan sekali untuk mengambil hak liburannya sebagai orang asing di negeri yang dianggap berbahaya. Beberapa staff senior lokal juga mengeluhkan banyaknya ketidakadilan yang harus mereka terima walaupun memegang jabatan yang sama penting dan berada dalam satu strata. Walaupun tidak semua pekerja asing berlaku sedemikian dan banyak yang memang sangat peduli dan menjadi Indonesianis sejati, tapi kenapa yang saya temui disini hanya sedikit yang seperti itu?
Untuk melihat kapasitas dan kemampuan para pekerja asing, saya ingin memberi contoh seorang mantan rekan kerja saya, orang Indonesia, yang tidak diperpanjang kontraknya ditempat kami bekerja dan tempat kerja berikutnya karena memang tidak bisa bekerja dengan baik namun sekarang menjadi salah seorang tenaga ahli di negara berkembang lainnya, hal ini membuat saya semakin tidak mengerti, bagaimana sebuah organisasi dapat melihat kecakapan dan komitmen seseorang terhadap pekerjaannya, apakah dengan referensi kerja sana sini membuat mereka menjadi ahli, apakah organisasi pernah bertanya apa yang telah mereka lakukan dan tinggalkan di suatu negara yang program tersebut masih berlangsung dengan baik hingga hari ini. Sebagai seorang expatriate tentunya banyak keuntungan yang akan diperolehnya, selain gaji yang tentunya sangat besar, keuntungan-keuntungan lain seperti tunjangan dan asuransi ini itu tentunya akan membuat kantong mereka menjadi lebih gembung. Dengan sumber daya yang sangat besar diinvestasikan untuk para expatriate itu apakah dapat menjamin bahwa semua program akan berjalan dengan sukses dan berkelanjutan, dengan kata lain berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat setempat? Ketika uang organisasi tersebut telah habis terkuras untuk program-program yang kadang kala absurd tadi, apakah mereka masih peduli dengan nasib masyarakat yang akan ditinggalkan?
Mengutip kembali sebuah kalimat dalam artikel Prof Siapno bahwa Timor Leste dan Aceh sekarang menjadi "open bazaar" untuk dunia international dengan lembaga asing sedang asyik bermain sebagai 'Tuhan' dengan masa kerja yang terbatas.
Artikel dari Prof Siapno ini kemudian saya kirimkan ke seluruh rekan kerja lokal di tempat saya bekerja dengan menyisipkan kalimat “tulisan yang bagus untuk kita merefleksikan diri sendiri, sudah berbuat apa dengan gaji besar yang kita diterima? apakah target orgasisasi yang berakhir tahun 2010 akan bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di aceh atau hanya kesejahteraan kita sebagai karyawan setelah habis masa kontraknya? seberapa oportuniskah kita?"
Sebuah permenungan akhir pekan yang membawa saya pada kesadaran bahwa saya ternyata seorang oportunis, yang masih bersedia menjadi ‘keset’ bagi para pekerja asing yang saya sadari tidak jelas manfaat programnya bagi masyarakat… haruskah saya bertahan dengan idealisme atau menyerah tunduk pada tuntutan duniawi (uang-red)?
-Tulisan ini dibuat berdasarkan observasi terhadap lingkungan yang ada disekitar saya dengan tidak berusaha mengeneralisir seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Aceh-


1 Comments:
mane....maneee....kok critanya sgini doang, gak ada update nya lagih? katenye lo lg doyan nulis....:p
Post a Comment
<< Home