CD vs MP3
Disalah satu artikel dalam majalah Cosmopolitan edisi beberapa bulan lalu yang membahas tentang what’s hot dan what’s not dalam trend fashion terkini juga ikut membahas tentang masalah piranti musik yang harus masuk dalam daftar belanja para cosmoner. Dalam artikel kecil itu, CD (compact disc) dikategorikan sebagai barang yang dianggap skanky, norak atau ketinggalan jaman yang sudah waktunya masuk museum dan digantikan oleh pemutar canggih MP3 sebangsa IPod yang fenomenal itu. Menurutnya, membawa-bawa kotak CD kemana-mana dapat mengurangi tingkat fashionabilitas (ada gak ya kata ini?) seseorang dan sudah sewajarnya sekarang semua orang beralih ke pemutar MP3 yang dapat menampung ribuan lagu hanya dalam satu kotak kecil yang tidak lebih besar dari kotak rokok tersebut.
Sebagai pencinta dan kolektor CD seperti saya, artikel tersebut tentunya menimbulkan ketidaksetujuan yang besar. Bila kita ingin menghitung secara matematis, biaya pemilikan atau pemeliharaan pemutar CD jauh lebih besar ketimbang pemutar MP3, bayangkan saja uang yang harus kita keluarkan untuk membeli satu CD yang sudah berkisar antara 45 – 250 ribu rupiah (CD non bajakan). Artinya bila seorang kolektor memiliki 100 keping CD termurah saja sudah dapat membeli pemutar MP3 paling canggih saat ini. Jadi kalau dibilang CD sudah out of fashion, bukan berarti harus ditinggalkan begitu saja, karena fashion selalu kembali, seperti halnya trend vintage yang sempat marak di dunia busana tahun lalu, atau contoh yang lebih dekat adalah antusiasme kolektor piringan hitam yang masih tetap tinggi hingga saat ini.
Sebagai pencinta dan kolektor CD seperti saya, artikel tersebut tentunya menimbulkan ketidaksetujuan yang besar. Bila kita ingin menghitung secara matematis, biaya pemilikan atau pemeliharaan pemutar CD jauh lebih besar ketimbang pemutar MP3, bayangkan saja uang yang harus kita keluarkan untuk membeli satu CD yang sudah berkisar antara 45 – 250 ribu rupiah (CD non bajakan). Artinya bila seorang kolektor memiliki 100 keping CD termurah saja sudah dapat membeli pemutar MP3 paling canggih saat ini. Jadi kalau dibilang CD sudah out of fashion, bukan berarti harus ditinggalkan begitu saja, karena fashion selalu kembali, seperti halnya trend vintage yang sempat marak di dunia busana tahun lalu, atau contoh yang lebih dekat adalah antusiasme kolektor piringan hitam yang masih tetap tinggi hingga saat ini.
Selain hal diatas, ketidaksetujuan saya yang paling utama adalah tidak tersentuhnya faktor non-materi lain yang timbul dari perkembangan mode tersebut. Selama ini saya sangat menikmati membeli CD dan membongkar-bongkar sampul album CD tersebut segera setelah membelinya. Selain berusaha memahami dan mengagumi design cover yang beraneka ragam, saya juga membaca isinya, mulai dari prakata hingga lirik lagu yang ada, terkadang saya malah hafal nama production company hingga mixing studio yang digunakan oleh si musisi dalam albumnya itu. Di dalam sampul album CD itulah banyak pesan yang ingin disampaikan si musisi kepada penggemarnya, karena sebuah album musik merupakan sebuah pencapaian individu dalam kurun waktu tertentu, karenanya ia tentu ingin berbagi kepada orang yang dianggap berjasa dalam pencapaiannya tersebut, terutama para penggemarnya sebagai pendukung utama si musisi untuk terus berkarya. Hal inilah yang tidak saya temui dalam pemutar MP3 yang dapat merekam ribuan lagu dalam folder-folder yang dapat kita susun sendiri itu, walaupun kita dapat mendengarkan beragam lagu selama yang kita mau, tapi seperti saya utarakan diatas, tidak ada lagi hubungan personal antara saya dengan musisi yang saya gemari, saya hanya menikmati lagunya tapi (sering) tidak peduli dengan liriknya atau hal yang melatarbelakangi terbuatnya lagu atau album tersebut. Jadi walaupun dengan malu harus mengakui bahwa saya sudah membeli pemutar MP3 demi alasan yang tidak jelas, tapi kecintaan saya akan CD tidak akan berkurang… setidak-tidaknya inilah cara saya untuk bisa menghargai hasil karya orang lain.

