Monday, May 29, 2006

CD vs MP3

Disalah satu artikel dalam majalah Cosmopolitan edisi beberapa bulan lalu yang membahas tentang what’s hot dan what’s not dalam trend fashion terkini juga ikut membahas tentang masalah piranti musik yang harus masuk dalam daftar belanja para cosmoner. Dalam artikel kecil itu, CD (compact disc) dikategorikan sebagai barang yang dianggap skanky, norak atau ketinggalan jaman yang sudah waktunya masuk museum dan digantikan oleh pemutar canggih MP3 sebangsa IPod yang fenomenal itu. Menurutnya, membawa-bawa kotak CD kemana-mana dapat mengurangi tingkat fashionabilitas (ada gak ya kata ini?) seseorang dan sudah sewajarnya sekarang semua orang beralih ke pemutar MP3 yang dapat menampung ribuan lagu hanya dalam satu kotak kecil yang tidak lebih besar dari kotak rokok tersebut.

Sebagai pencinta dan kolektor CD seperti saya, artikel tersebut tentunya menimbulkan ketidaksetujuan yang besar. Bila kita ingin menghitung secara matematis, biaya pemilikan atau pemeliharaan pemutar CD jauh lebih besar ketimbang pemutar MP3, bayangkan saja uang yang harus kita keluarkan untuk membeli satu CD yang sudah berkisar antara 45 – 250 ribu rupiah (CD non bajakan). Artinya bila seorang kolektor memiliki 100 keping CD termurah saja sudah dapat membeli pemutar MP3 paling canggih saat ini. Jadi kalau dibilang CD sudah out of fashion, bukan berarti harus ditinggalkan begitu saja, karena fashion selalu kembali, seperti halnya trend vintage yang sempat marak di dunia busana tahun lalu, atau contoh yang lebih dekat adalah antusiasme kolektor piringan hitam yang masih tetap tinggi hingga saat ini.
Selain hal diatas, ketidaksetujuan saya yang paling utama adalah tidak tersentuhnya faktor non-materi lain yang timbul dari perkembangan mode tersebut. Selama ini saya sangat menikmati membeli CD dan membongkar-bongkar sampul album CD tersebut segera setelah membelinya. Selain berusaha memahami dan mengagumi design cover yang beraneka ragam, saya juga membaca isinya, mulai dari prakata hingga lirik lagu yang ada, terkadang saya malah hafal nama production company hingga mixing studio yang digunakan oleh si musisi dalam albumnya itu. Di dalam sampul album CD itulah banyak pesan yang ingin disampaikan si musisi kepada penggemarnya, karena sebuah album musik merupakan sebuah pencapaian individu dalam kurun waktu tertentu, karenanya ia tentu ingin berbagi kepada orang yang dianggap berjasa dalam pencapaiannya tersebut, terutama para penggemarnya sebagai pendukung utama si musisi untuk terus berkarya. Hal inilah yang tidak saya temui dalam pemutar MP3 yang dapat merekam ribuan lagu dalam folder-folder yang dapat kita susun sendiri itu, walaupun kita dapat mendengarkan beragam lagu selama yang kita mau, tapi seperti saya utarakan diatas, tidak ada lagi hubungan personal antara saya dengan musisi yang saya gemari, saya hanya menikmati lagunya tapi (sering) tidak peduli dengan liriknya atau hal yang melatarbelakangi terbuatnya lagu atau album tersebut. Jadi walaupun dengan malu harus mengakui bahwa saya sudah membeli pemutar MP3 demi alasan yang tidak jelas, tapi kecintaan saya akan CD tidak akan berkurang… setidak-tidaknya inilah cara saya untuk bisa menghargai hasil karya orang lain.

Friday, May 19, 2006

Moonlighting

Moonlighting: work a second job, usually after hours (worbweb dicitionary)

Betapa senangnya saya menerima amplop hasil moonlighting saya menjadi penterjemah Indonesia-Inggris dalam sebuah lokakarya mengenai isu keuangan antara sebuah organisasi donor dengan partner LSM lokalnya di akhir pekan lalu. Tanpa harus menghitung jumlahnya ketika acara usai, amplop langsung saya masukan kedalam tas saya lalu berfikir untuk apa uang ekstra yang saya terima ini.. has to be something useful!

Ternyata menyenangkan juga mengerjakan sesuatu yang (sebenarnya tidak banyak) berbeda dengan kerja sehari-hari kita dengan bayaran yang sangat setimpal pula. Pernah beberapa kali saya menolak melakukan kerja ekstra seperti ini karena berfikir bahwa pendapatan yang saya dapat dari organisasi tempat saya bekerja sekarang sudah jauh daripada cukup, tapi setelah melakukannya pekan kemarin saya malah ketagihan untuk melakukannya lagi, kepuasan itu ternyata tidak terletak pada berapa keuntungan yang diterima, tapi dari apa yang dapat saya pelajari atau bertambahnya wawasan saya akan isu-isu lain disekitar saya, setidak-tidaknya saya mendapat pengetahuan baru yang saya yakin akan berguna bagi saya kelak.

Selain dari bertambahnya ilmu baru bagi saya, ada manfaat lain yang bisa saya petik dari kerja saya kemarin. Selama ini pekerjaan mewajibkan saya untuk mengawasi banyak orang dilapangan yang mengerjakan program atau projek yang telah ditetapkan oleh organisasi, tapi ternyata posisi seperti ini kadang membuat kaki saya tidak berpijak di bumi, karena mau tidak mau, rekan-rekan di lapangan harus menuruti apa yang saya perintahkan. Egoisme saya menjadi lebih besar. Namun menjadi pekerja paruh waktu kemarin mengingatkan saya bahwa diatas langit masih ada langit, artinya saya harus turut pada aturan yang diminta oleh lembaga yang menyewa saya tersebut, dan saya tidak bisa lagi bertindak menurut pemikiran saya sendiri, saya kembali menjadi seorang suruhan yang mentaati perintah atasan seperti halnya saya memerintahkan rekan-rekan saya di lapangan. Sebuah pembelajaran yang sangat berarti buat saya…

Monday, May 15, 2006

Gilmore Girls

Tidak bisa dibayangkan senangnya saya ketika melihat serial Gilmore Girls terpajang di etalase penjual DVD bajakan di salah satu pusat perbelanjaan 2 pekan yang lalu, serial yang sudah saya idam-idamkan sejak lama akhirnya ‘terbajak’ juga. Dulu sempat saya berfikir untuk membeli seluruh episode dari musim tayang 1 hingga 5 melalui amazon.com seharga hampir US$ 300, tapi niatan itu saya hilangkan dengan terus berharap bahwa serial ini pada suatu saat akan diedarkan juga oleh para ‘distributor’ gelap tadi. Walaupun saya tidak mendukung adanya pembajakan karya seni, tapi tidak untuk hal yang satu ini (manusia tidak ada yang sempurna toh? :-)) Sebuah pembenaran untuk diri saya sendiri bahwa setidak-tidaknya saya selalu membeli karya asli seniman Indonesia yang relatif lebih miskin dari seniman asing, karena buat saya, cukuplah kita menjadi pasar besar bagi para kapitalis amerika mengeruk uang jutaan dollar dari kantong masyarakat negara berkembang yang income per capitanya tidak memungkinkan untuk membeli produk DVD, buku, games atau software asli, whatever!

Dulu saya dan sahabat-sahabat saya sering menjadikan jam tayang serial ini sebagai patokan waktu, dimana kami biasanya akan membuat janji setelah serial ini diputar disalah satu TV swasta. Begitu besar kecintaan saya (kami lebih tepatnya) akan serial satu ini maka nyaris tidak pernah sekalipun saya melewatkannya, jika hal tersebut sampai terjadi, maka saya akan mendudukan salah satu sahabat saya yang menontonnya untuk menceritakan kembali episode yang terlewatkan tersebut.
Sesaat setelah saya membeli seluruh serial yang ada saya langsung teringat salah seorang sahabat saya, seorang piatu yang juga penggemar berat serial yang menceritakan kisah hidup ibu-anak bernama Lorelai Gilmore ini, yang selalu terkesiap setiap selesai menontonnya. Baginya tokoh Lorelai Gilmore adalah sosok seorang ibu yang pernah dimilikinya, yang selalu berada disampingnya walaupun memiliki kesibukan yang luar biasa. Sebuah SMS lalu saya kirimkan untuk menginformasikan hal ini kepada sahabat tersebut, dan bertanya apakah saya bisa membelikan untuknya sebagai hadiah pernikahannya yang akan berlangsung tidak lama lagi.

Satu pekan terakhir ini waktu-waktu luang saya hanya terisi oleh serial Gilmore Girls ini, yang membuat saya kerap mengkhayalkan hidup disebuah kota seperti Stars Hollow dimana waktu sepertinya berjalan sangat lambat disana, dalam satu hari orang bisa melalukan banyak hal, dari beberapa kali minum kopi atau makan burger istimewa di kedai milik Luke, pergi bekerja, bersekolah, bertetangga dengan penghuni yang saling kenal dan mendukung satu sama lain, menjadi Rory Gilmore (Lorelai Jr) yang sangat cerdas dan selalu berprasangka baik terhadap orang lain, menjadi Lorelai Gilmore yang tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi manusia paripurna, dan hal-hal biasa lain yang menjadi sangat luar biasa dimata saya.
Ah, seandainya ada kota dengan kualitas hidup sedemikian, betapa bahagia manusia yang hidup didalamnya…
If you're out on the road/Feeling lonely, and so cold/ All you have to do is call my name/ And I'll be there on the next train/Where you lead/ I will follow/ Anywhere that you tell me to/ If you need, you need me to be with you/I will follow where you lead (Where you lead - carole king, gilmore girls theme song)

Humanitarian Worker (Part 3 – The Network)

Duduk bersama sekumpulan orang dan menjadi satu-satunya orang yang tidak mengenal mereka sebelumnya memang sangat tidak menyenangkan. Disukai atau tidak, hal inilah yang kerap kali saya alami dalam kurun waktu lebih dari satu tahun belakangan ini, sudah tidak terbilang jumlahnya saat-saat dimana saya harus menjadi pendengar setia rekan-rekan saya karena saya sering tidak mengerti topik yang dibicarakan.

Di Banda Aceh sekarang ini tidak dapat dipungkiri telah menjadi surga lapangan pekerjaan bagi para tenaga kerja kemanusiaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kelompok orang (yang pernah bekerja) ambon, ternate, dili, poso hingga afghanistan, kosovo, Irak dan daerah-daerah bekas konflik atau bencana lainnya sekarang banyak ditemui disini. Tak ayal kota ini menjadi semacam kota reuni bagi mereka. Rekan-rekan ambon atau ternate misalnya seringkali membuat pesta ‘reuni’ regular bagi anggotanya, dengan tambahan sedikit orang-orang baru, seperti saya, yang seperti diutarakan diawal, yang harus banyak bertanya sana-sini untuk dapat memahami cerita yang dilontarkan mereka.

Jaringan memang menjadi hal penting ketika kita berbicara masalah pekerjaan, jika kita ingin mengembangkan diri atau referensi kerja kita, maka koneksi dan jejaring harus kita kembangkan. Hal ini memang sangat umum terjadi, tapi menjadi sangat penting bagi para tenaga kerja kemanusiaan tadi, untuk mereka koneksi dan jejaring inilah alat mereka bertahan hidup dalam ‘dunia’ ini. Jika dikalangan pers ada istilah “bad news is good news” maka dalam lingkup ini bisa saya istilahkan “(natural/man made) disaster is opportunity”, sama-sama mendapatkan keuntungan dari keadaan buruk yang menimpa orang lain. Betapa tidak, dengan adanya bencana-bencana seperti inilah para tenaga kerja kemanusiaan itu dibutuhkan, dan dengan adanya urgensi untuk menciptakan kestabilan di daerah yang terkena bencana tadi, maka banyak tenaga kerja kemanusiaan yang harus dikerahkan.

Beberapa waktu belakangan ini banyak orang-orang yang datang dan berdiam di Aceh tanpa surat kontrak, baik rekan-rekan lokal sampai orang asing sekalipun, yang hanya berbekal pengalaman kerja dibelakangnya plus koneksi dan jejaring mereka. Mereka juga ingin meraguk keuntungan seperti rekan-rekan yang sudah berada disini sebelumnya, menjadi tenaga kerja kemanusiaan dengan pendapatan yang cukup besar sekaligus menambah daftar pengalaman kerja dalam resumenya. Dan memang tidak dapat dipungkiri bahwa dengan membanjirnya organisasi lokal hingga internasional di Aceh sejak tsunami terjadi maka lapangan kerjapun semakin besar.

Aceh mungkin hanya menjadi satu batu loncatan bagi saya untuk mengembangkan jejaring saya kedepan (bila ingin terus bergelut dalam ‘dunia’ ini), tapi pengembangan kapasitas dan kualitas individupun tak kalah pentingnya dari sekedar jejaring dan koneksi. Dan semoga para tenaga kerja kemanusiaan (termasuk saya) itupun memang memiliki kemampuan yang dibutuhkan sehingga sumber daya yang diperuntukan bagi mereka tidak sia-sia, karena jika hanya mengandalkan koneksi dan jejaring semata, maka kita tak ubahnya seperti Indonesia masa kegelapan yang penuh dengan kolusi, korupsi dan nepotisme.
- tulisan ini dibuat berdasarkan observasi terhadap lingkungan yang ada disekitar saya dengan tidak berusaha mengeneralisir seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Aceh-

Friday, May 12, 2006

My Homely Home

Akhir pekan lalu saya berkesempatan pulang ke rumah menumpang pesawat terakhir yang telat 1,5 jam hingga tiba dinihari di Bandara Soekarno Hatta. Tapi jarak yang dekat antara rumah dan bandara membuat saya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk sampai ke peraduan... I love Tangerang!

Rumah itu milik orang tua saya, tapi itulah satu-satunya rumah yang saya kenal hingga saat ini. Walaupun saya, adik-adik saya dan orang tua kami pernah tinggal di beberapa tempat, tapi pada akhirnya semua kembali ke rumah ini, rumah sederhana berkamar 3 berukuran tidak lebih dari 200 m2 yang harus menampung kedua orang tua saya dan 4 anak-anaknya. Untunglah orang tua saya diberkati dengan 2 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki sehingga pembagian kamar menjadi lebih mudah.

Rumah ini tidak pernah berubah sejak ditempati dari hampir 30 tahun yang lalu, letak dan bentuknya tetap sama walaupun secara interior dan eksterior mengalami sedikit perubahan sana-sini, seperti kolam ikan yang awalnya terletak di sisi ruang TV harus berpindah ke halaman luar karena tuntutan ruang tambahan, begitupula dengan tetangga-tetangga kami, tidak banyak yang berpindah sehingga anggota komunitas ini tidak banyak berbeda. Ayah saya adalah orang yang paling bersikukuh untuk tidak menjual rumah ini, dengan makin banyaknya perumahan atau real estate bertebaran di Tangerang berikut segala fasilitas dan kemudahan akses lainnya (plus rezeki ekstra), kami tetap tak bergeming. Alasan ayah saya yang paling utama adalah faktor kenyamanan bertetangga, menurutnya jika kami harus berpindah ke real estate yang ‘katanya’ lebih individualis, kami tentunya tidak bisa lagi melakukan rutinitas wajib berlebaran bersama tetangga setiap tahun (ie. bertandang ke semua rumah tetangga kami untuk bermaaf-maafan) dan beliau tidak akan punya teman mancing tetap lagi yang siaga kapanpun diajak.

Dulu, ketika banyak teman atau sahabat saya ‘eksodus’ ke real estate, saya dan adik-adik saya kerap merengek minta pindah ke salah satu tempat itu demi alasan akses fasilitas atau prestige semata, tapi kini, setelah kami sering pergi ‘merantau' dari satu tempat ke tempat lain, ketempat inilah kami selalu kembali, RUMAH KAMI, rumah sederhana penuh cinta yang merekam semua peristiwa dalam keluarga kami,

Kini saya sangat menikmati masa-masa saya kembali ke rumah dan beristirahat di dipan besi putih di kamar yang harus saya bagi jika adik saya juga datang liburan… I’m longing home!

Another aeroplane/Another sunny place/I’m lucky I know/But I wanna go home
Another winter day/has come and gone away/In even Paris and Rome/And I wanna go home..
(Home – Michael Buble)

Tuesday, May 09, 2006

Their Happy 'small' World

Wah ternyata sudah cukup lama saya meninggalkan blog ini, kangen ingin menuliskan pengalaman pulang akhir pekan saya baru-baru ini… (dan semakin lama ditinggalkan karena saya lupa password blog saya:-))

Di akhir pekan yang cukup singkat ternyata saya bisa menghubungi banyak sahabat lama saya (satu gank dari TK hingga SMA), rata-rata menikah dan sudah menjadi orang tua. Walaupun banyak yang tidak sempat bertemu muka, tapi kita sempat menghabiskan banyak waktu di telepon. Rata-rata menanyakan, “kapan menikah?” Pertanyaan umum yang sering dialamatkan kepada lajang diatas 30 tahun seperti saya. Mungkin pertanyaan serupa cukup mengganggu bagi rekan jomblo sejawat lain, tapi bagi saya ini adalah pertanyaan yang biasa semacam “apa kabar?” karena seringnya diutarakan.

Saat sahabat-sahabat saya menanyakan hal tersebut saya malah balik bertanya, “apakah kamu bahagia dengan pilihan kamu menikah?” (rata-rata dari sahabat saya banyak yang menikah muda <25 tahun, dan ada yang hampir memiliki 3 anak). Butuh waktu bagi mereka berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan saya itu, tapi hampir semua sahabat saya mengiyakannya… mereka bahagia dengan pilihan menikah!

Ternyata sahabat-sahabat saya bahagia menjadi ibu rumah tangga, yang berkutat dengan pekerjaan mengasuh anak, mengantar anak ke sekolah dan tempat les, memasak untuk keluarga dan menjadi tempat curahan pasangannya. Beberapa teman bahkan sukarela berhenti dari pekerjaannya hanya untuk mengasuh anak-anaknya, walaupun ada juga yang masih menjadi wanita pekerja dan terus berusaha menjadi super mom (sukses dalam karir dan keluarga). Meskipun ada yang curhat bahwa kehidupan perkawinan memang tidak semudah yang dibayangkan, dimana ada masa-masa sulit ketika mereka harus mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran untuk keluar dari kemelut rumah tangganya, tapi mereka menikmati masa-masa itu.

Banyak dari teman saya yang tidak pernah punya passport, tidak ada agenda jalan-jalan (jangankan keluar negeri, wisata domestik sekalipun juga langka), tidak pernah punya jadwal spa teratur bahkan sampai kehilangan me time-nya demi anak dan suami, tapi mereka dengan mantap menjawab bahwa mereka bahagia. Dunia mereka adalah rumah-rumah, baik rumah sendiri, rumah orang tua dan rumah mertua hingga sekolah anak, pasar, mall, tempat les, dapur sampai ranjang. Hal-hal kecil dimata saya ternyata dunia bagi mereka, dan mereka bahagia hidup didalamnya.

Sekelumit perbincangan dengan sahabat-sahabat saya membuktikan bahwa dengan tidak pernah ke pergi ke Singapura, tidak perlu punya sepatu Manolo Blahnik atau tas tangan Gucci hingga makan malam romantis diatas kapal pesiar untuk bisa menjadi bahagia, cukup dengan menikmati yang ada dengan sepenuh hati tanpa lupa berserah kepada-NYA. Sekarang pertanyaannya apakah saya bisa menikmati dunia kecil saya kelak? Karena begitu banyak tempat di dunia ini yang membuat saya jatuh hati hingga ingin mengunjunginya kembali, sesuatu yang sepertinya tidak pernah dialami oleh sahabat-sahabat saya dalam dunia kecilnya.