The Train Affair
"pakabar bu?"
"hi, baik gue! tumben ym, kemana aja sih?"
"masih di aceh, sibuk banget gue... udah hamil berapa bulan sekarang?"
"udah hampir 4 bulan, makanya pulang dong! betah benerr..."
"iya nih, gimana roker* yang lain? pada hamil juga ga?"
"wah ketinggalan berita lo, sekarang udah pada lahiran, tinggal gue nih yang bumil (ibu hamil-red), si wida aja sekarang lagi cuti hamil"
"masa sih? emang dia udah hamil lagi?"
"hehehe... lo emang udah kelamaan gak jadi roker sih ya, ga update..."
*roker = rombongan kereta
***
Itulah sepenggal percakapan IM saya dengan Dija, teman adik saya yang kemudian menjadi salah satu teman baik saya karena seringnya bertemu di kereta Cisadane Express jurusan Tangerang - Dukuh Atas, Sudirman. Terakhir kali saya bertemu dija, dia masih lajang yang sedang sibuk mengurus persiapan pernikahannya.
Kereta buat orang-orang seperti saya dan dija, yang waktu kerjanya sudah ditentukan dari jam delapan pagi hingga jam lima sore, adalah alternatif terbaik untuk dapat mencapai ibukota dengan cepat dan quite reliable, bandingkan dengan alat transportasi lainnya di Jakarta yang sangat tidak jelas kapan waktu berangkat dan tibanya. Lebih dari satu tahun, setelah memutuskan untuk tidak lagi nge-kos, saya dan teman-teman lain seperti dija, plus sebagian penduduk Tangerang yang 'merumput' di Jakarta, memang menjadi penghuni tetap kereta eksekutif seharga delapan ribu rupiah per trip ini. Awalnya sangat sulit untuk saya bisa menerima kebersamaan dan pertemanan 'terpaksa' ini dengan cenderung diam, membaca buku atau (pura-pura) tidur, namun dengan 'kegigihan' dija yang terus mengajak saya berbicara, akhirnya saya mulai merespon pertanyaan-pertanyaannya hingga kami terlibat dalam percakapan yang sebenarnya (baca: bukan basa-basi). Hal itu ternyata membuat suasana di gerbong kereta yang dingin (karena AC yang full power) bisa menjadi lebih cair dan menyenangkan. Dija memang orang yang talkative, sepertinya hampir semua penumpang dari gerbong satu yang biasa kami tempati hingga gerbong terakhir mengenalnya, kesupelannya patut saya ancungi jempol. Dari dija-lah saya mengenal banyak orang dan orang-orang lainnya di kereta yang pada akhirnya kami secara tidak sadar telah membentuk sebuah komunitas tersendiri, komunitas roker (rombongan kereta-red).
Awalnya saya tidak percaya bahwa kereta dapat menjadi ajang kehidupan sosial para pekerja kelas menengah-bawah seperti saya, namun pandangan itu mulai berubah ketika melihat realita tentang manusia penghuni kereta itu satu demi satu mulai terbuka. Si A ternyata seorang manager di perusahaan konsultan IT yang lumayan besar dengan frekuensi perjalanan keluar negeri yang cukup sering (tak lupa oleh-oleh untuk para roker) yang memilih kereta ketimbang menyetir di jalan tol yang tidak pernah lengang. Teman saya B yang manis ternyata seorang pencinta buku dengan wawasan yang sangat luas yang selalu antusias untuk memberikan review buku-buku terbaru. Perselingkuhan X dan Y yang sama-sama telah berkeluarga atau masalah dija yang sedang dijatuhi cinta dan banyak cerita-cerita lainnya semua terungkap di kereta. Belum lagi sesi curhat sesama roker dan kisah sukses C berjualan makanan bagi penghuni kereta yang mulanya hanya berawal dari pesanan susu kacang hijau hingga sesi hang out bareng dan buka puasa bersama pernah menghiasi satu episode kehidupan saya.
Jika melihat kembali pengalaman pribadi saya, menjadi komuter sejati sepertinya sudah menjadi garisan tangan, tidak hanya Tangerang - Jakarta saja yang harus saya lalui setiap hari, rute Uppsala - Stockholm (Swedia), Clementi - Orchard (Singapore) hingga Breda - Tillburg (Belanda) juga pernah menjadi bagian dari pengalaman saya berkomuter ria. Dan walaupun sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya 'keluar' dari keanggotaan roker Cisadane Express, tapi sepenggal pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran bagi saya untuk lebih mengenal beragam jenis manusia dan problematikanya.
Sekarang saya sedang membayangkan berapa banyak waktu dalam hidup saya yang telah saya habiskan HANYA di jalan-jalan dunia itu... mmm...


1 Comments:
thanks ya..
seperti di post awal saya katakan bahwa sebenarnya hidup saya datar-datar saja, walaupun ada ups and downs tapi sama halnya dengan manusia biasa lainnya.
saya tidak pernah mengatakan bahwa saya menjalaninya sendirian (kecuali waktu berada di kereta, bis, mobil, dll) karena saya selalu memiliki keluarga, kerabat, teman dan sahabat yang memang membuat hidup saya menjadi berwarna.
trust me, i'm not great in loneliness... saya akan sangat menderita!
Post a Comment
<< Home