Friday, May 12, 2006

My Homely Home

Akhir pekan lalu saya berkesempatan pulang ke rumah menumpang pesawat terakhir yang telat 1,5 jam hingga tiba dinihari di Bandara Soekarno Hatta. Tapi jarak yang dekat antara rumah dan bandara membuat saya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk sampai ke peraduan... I love Tangerang!

Rumah itu milik orang tua saya, tapi itulah satu-satunya rumah yang saya kenal hingga saat ini. Walaupun saya, adik-adik saya dan orang tua kami pernah tinggal di beberapa tempat, tapi pada akhirnya semua kembali ke rumah ini, rumah sederhana berkamar 3 berukuran tidak lebih dari 200 m2 yang harus menampung kedua orang tua saya dan 4 anak-anaknya. Untunglah orang tua saya diberkati dengan 2 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki sehingga pembagian kamar menjadi lebih mudah.

Rumah ini tidak pernah berubah sejak ditempati dari hampir 30 tahun yang lalu, letak dan bentuknya tetap sama walaupun secara interior dan eksterior mengalami sedikit perubahan sana-sini, seperti kolam ikan yang awalnya terletak di sisi ruang TV harus berpindah ke halaman luar karena tuntutan ruang tambahan, begitupula dengan tetangga-tetangga kami, tidak banyak yang berpindah sehingga anggota komunitas ini tidak banyak berbeda. Ayah saya adalah orang yang paling bersikukuh untuk tidak menjual rumah ini, dengan makin banyaknya perumahan atau real estate bertebaran di Tangerang berikut segala fasilitas dan kemudahan akses lainnya (plus rezeki ekstra), kami tetap tak bergeming. Alasan ayah saya yang paling utama adalah faktor kenyamanan bertetangga, menurutnya jika kami harus berpindah ke real estate yang ‘katanya’ lebih individualis, kami tentunya tidak bisa lagi melakukan rutinitas wajib berlebaran bersama tetangga setiap tahun (ie. bertandang ke semua rumah tetangga kami untuk bermaaf-maafan) dan beliau tidak akan punya teman mancing tetap lagi yang siaga kapanpun diajak.

Dulu, ketika banyak teman atau sahabat saya ‘eksodus’ ke real estate, saya dan adik-adik saya kerap merengek minta pindah ke salah satu tempat itu demi alasan akses fasilitas atau prestige semata, tapi kini, setelah kami sering pergi ‘merantau' dari satu tempat ke tempat lain, ketempat inilah kami selalu kembali, RUMAH KAMI, rumah sederhana penuh cinta yang merekam semua peristiwa dalam keluarga kami,

Kini saya sangat menikmati masa-masa saya kembali ke rumah dan beristirahat di dipan besi putih di kamar yang harus saya bagi jika adik saya juga datang liburan… I’m longing home!

Another aeroplane/Another sunny place/I’m lucky I know/But I wanna go home
Another winter day/has come and gone away/In even Paris and Rome/And I wanna go home..
(Home – Michael Buble)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home