Their Happy 'small' World
Wah ternyata sudah cukup lama saya meninggalkan blog ini, kangen ingin menuliskan pengalaman pulang akhir pekan saya baru-baru ini… (dan semakin lama ditinggalkan karena saya lupa password blog saya:-))
Di akhir pekan yang cukup singkat ternyata saya bisa menghubungi banyak sahabat lama saya (satu gank dari TK hingga SMA), rata-rata menikah dan sudah menjadi orang tua. Walaupun banyak yang tidak sempat bertemu muka, tapi kita sempat menghabiskan banyak waktu di telepon. Rata-rata menanyakan, “kapan menikah?” Pertanyaan umum yang sering dialamatkan kepada lajang diatas 30 tahun seperti saya. Mungkin pertanyaan serupa cukup mengganggu bagi rekan jomblo sejawat lain, tapi bagi saya ini adalah pertanyaan yang biasa semacam “apa kabar?” karena seringnya diutarakan.
Saat sahabat-sahabat saya menanyakan hal tersebut saya malah balik bertanya, “apakah kamu bahagia dengan pilihan kamu menikah?” (rata-rata dari sahabat saya banyak yang menikah muda <25 tahun, dan ada yang hampir memiliki 3 anak). Butuh waktu bagi mereka berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan saya itu, tapi hampir semua sahabat saya mengiyakannya… mereka bahagia dengan pilihan menikah!
Banyak dari teman saya yang tidak pernah punya passport, tidak ada agenda jalan-jalan (jangankan keluar negeri, wisata domestik sekalipun juga langka), tidak pernah punya jadwal spa teratur bahkan sampai kehilangan me time-nya demi anak dan suami, tapi mereka dengan mantap menjawab bahwa mereka bahagia. Dunia mereka adalah rumah-rumah, baik rumah sendiri, rumah orang tua dan rumah mertua hingga sekolah anak, pasar, mall, tempat les, dapur sampai ranjang. Hal-hal kecil dimata saya ternyata dunia bagi mereka, dan mereka bahagia hidup didalamnya.
Sekelumit perbincangan dengan sahabat-sahabat saya membuktikan bahwa dengan tidak pernah ke pergi ke Singapura, tidak perlu punya sepatu Manolo Blahnik atau tas tangan Gucci hingga makan malam romantis diatas kapal pesiar untuk bisa menjadi bahagia, cukup dengan menikmati yang ada dengan sepenuh hati tanpa lupa berserah kepada-NYA. Sekarang pertanyaannya apakah saya bisa menikmati dunia kecil saya kelak? Karena begitu banyak tempat di dunia ini yang membuat saya jatuh hati hingga ingin mengunjunginya kembali, sesuatu yang sepertinya tidak pernah dialami oleh sahabat-sahabat saya dalam dunia kecilnya.
Di akhir pekan yang cukup singkat ternyata saya bisa menghubungi banyak sahabat lama saya (satu gank dari TK hingga SMA), rata-rata menikah dan sudah menjadi orang tua. Walaupun banyak yang tidak sempat bertemu muka, tapi kita sempat menghabiskan banyak waktu di telepon. Rata-rata menanyakan, “kapan menikah?” Pertanyaan umum yang sering dialamatkan kepada lajang diatas 30 tahun seperti saya. Mungkin pertanyaan serupa cukup mengganggu bagi rekan jomblo sejawat lain, tapi bagi saya ini adalah pertanyaan yang biasa semacam “apa kabar?” karena seringnya diutarakan.
Saat sahabat-sahabat saya menanyakan hal tersebut saya malah balik bertanya, “apakah kamu bahagia dengan pilihan kamu menikah?” (rata-rata dari sahabat saya banyak yang menikah muda <25 tahun, dan ada yang hampir memiliki 3 anak). Butuh waktu bagi mereka berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan saya itu, tapi hampir semua sahabat saya mengiyakannya… mereka bahagia dengan pilihan menikah!
Ternyata sahabat-sahabat saya bahagia menjadi ibu rumah tangga, yang berkutat dengan pekerjaan mengasuh anak, mengantar anak ke sekolah dan tempat les, memasak untuk keluarga dan menjadi tempat curahan pasangannya. Beberapa teman bahkan sukarela berhenti dari pekerjaannya hanya untuk mengasuh anak-anaknya, walaupun ada juga yang masih menjadi wanita pekerja dan terus berusaha menjadi super mom (sukses dalam karir dan keluarga). Meskipun ada yang curhat bahwa kehidupan perkawinan memang tidak semudah yang dibayangkan, dimana ada masa-masa sulit ketika mereka harus mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran untuk keluar dari kemelut rumah tangganya, tapi mereka menikmati masa-masa itu.
Banyak dari teman saya yang tidak pernah punya passport, tidak ada agenda jalan-jalan (jangankan keluar negeri, wisata domestik sekalipun juga langka), tidak pernah punya jadwal spa teratur bahkan sampai kehilangan me time-nya demi anak dan suami, tapi mereka dengan mantap menjawab bahwa mereka bahagia. Dunia mereka adalah rumah-rumah, baik rumah sendiri, rumah orang tua dan rumah mertua hingga sekolah anak, pasar, mall, tempat les, dapur sampai ranjang. Hal-hal kecil dimata saya ternyata dunia bagi mereka, dan mereka bahagia hidup didalamnya.
Sekelumit perbincangan dengan sahabat-sahabat saya membuktikan bahwa dengan tidak pernah ke pergi ke Singapura, tidak perlu punya sepatu Manolo Blahnik atau tas tangan Gucci hingga makan malam romantis diatas kapal pesiar untuk bisa menjadi bahagia, cukup dengan menikmati yang ada dengan sepenuh hati tanpa lupa berserah kepada-NYA. Sekarang pertanyaannya apakah saya bisa menikmati dunia kecil saya kelak? Karena begitu banyak tempat di dunia ini yang membuat saya jatuh hati hingga ingin mengunjunginya kembali, sesuatu yang sepertinya tidak pernah dialami oleh sahabat-sahabat saya dalam dunia kecilnya.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home