Humanitarian Worker (Part 3 – The Network)
Duduk bersama sekumpulan orang dan menjadi satu-satunya orang yang tidak mengenal mereka sebelumnya memang sangat tidak menyenangkan. Disukai atau tidak, hal inilah yang kerap kali saya alami dalam kurun waktu lebih dari satu tahun belakangan ini, sudah tidak terbilang jumlahnya saat-saat dimana saya harus menjadi pendengar setia rekan-rekan saya karena saya sering tidak mengerti topik yang dibicarakan.
Di Banda Aceh sekarang ini tidak dapat dipungkiri telah menjadi surga lapangan pekerjaan bagi para tenaga kerja kemanusiaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kelompok orang (yang pernah bekerja) ambon, ternate, dili, poso hingga afghanistan, kosovo, Irak dan daerah-daerah bekas konflik atau bencana lainnya sekarang banyak ditemui disini. Tak ayal kota ini menjadi semacam kota reuni bagi mereka. Rekan-rekan ambon atau ternate misalnya seringkali membuat pesta ‘reuni’ regular bagi anggotanya, dengan tambahan sedikit orang-orang baru, seperti saya, yang seperti diutarakan diawal, yang harus banyak bertanya sana-sini untuk dapat memahami cerita yang dilontarkan mereka.
Jaringan memang menjadi hal penting ketika kita berbicara masalah pekerjaan, jika kita ingin mengembangkan diri atau referensi kerja kita, maka koneksi dan jejaring harus kita kembangkan. Hal ini memang sangat umum terjadi, tapi menjadi sangat penting bagi para tenaga kerja kemanusiaan tadi, untuk mereka koneksi dan jejaring inilah alat mereka bertahan hidup dalam ‘dunia’ ini. Jika dikalangan pers ada istilah “bad news is good news” maka dalam lingkup ini bisa saya istilahkan “(natural/man made) disaster is opportunity”, sama-sama mendapatkan keuntungan dari keadaan buruk yang menimpa orang lain. Betapa tidak, dengan adanya bencana-bencana seperti inilah para tenaga kerja kemanusiaan itu dibutuhkan, dan dengan adanya urgensi untuk menciptakan kestabilan di daerah yang terkena bencana tadi, maka banyak tenaga kerja kemanusiaan yang harus dikerahkan.
Beberapa waktu belakangan ini banyak orang-orang yang datang dan berdiam di Aceh tanpa surat kontrak, baik rekan-rekan lokal sampai orang asing sekalipun, yang hanya berbekal pengalaman kerja dibelakangnya plus koneksi dan jejaring mereka. Mereka juga ingin meraguk keuntungan seperti rekan-rekan yang sudah berada disini sebelumnya, menjadi tenaga kerja kemanusiaan dengan pendapatan yang cukup besar sekaligus menambah daftar pengalaman kerja dalam resumenya. Dan memang tidak dapat dipungkiri bahwa dengan membanjirnya organisasi lokal hingga internasional di Aceh sejak tsunami terjadi maka lapangan kerjapun semakin besar.
Aceh mungkin hanya menjadi satu batu loncatan bagi saya untuk mengembangkan jejaring saya kedepan (bila ingin terus bergelut dalam ‘dunia’ ini), tapi pengembangan kapasitas dan kualitas individupun tak kalah pentingnya dari sekedar jejaring dan koneksi. Dan semoga para tenaga kerja kemanusiaan (termasuk saya) itupun memang memiliki kemampuan yang dibutuhkan sehingga sumber daya yang diperuntukan bagi mereka tidak sia-sia, karena jika hanya mengandalkan koneksi dan jejaring semata, maka kita tak ubahnya seperti Indonesia masa kegelapan yang penuh dengan kolusi, korupsi dan nepotisme.
Di Banda Aceh sekarang ini tidak dapat dipungkiri telah menjadi surga lapangan pekerjaan bagi para tenaga kerja kemanusiaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kelompok orang (yang pernah bekerja) ambon, ternate, dili, poso hingga afghanistan, kosovo, Irak dan daerah-daerah bekas konflik atau bencana lainnya sekarang banyak ditemui disini. Tak ayal kota ini menjadi semacam kota reuni bagi mereka. Rekan-rekan ambon atau ternate misalnya seringkali membuat pesta ‘reuni’ regular bagi anggotanya, dengan tambahan sedikit orang-orang baru, seperti saya, yang seperti diutarakan diawal, yang harus banyak bertanya sana-sini untuk dapat memahami cerita yang dilontarkan mereka.
Jaringan memang menjadi hal penting ketika kita berbicara masalah pekerjaan, jika kita ingin mengembangkan diri atau referensi kerja kita, maka koneksi dan jejaring harus kita kembangkan. Hal ini memang sangat umum terjadi, tapi menjadi sangat penting bagi para tenaga kerja kemanusiaan tadi, untuk mereka koneksi dan jejaring inilah alat mereka bertahan hidup dalam ‘dunia’ ini. Jika dikalangan pers ada istilah “bad news is good news” maka dalam lingkup ini bisa saya istilahkan “(natural/man made) disaster is opportunity”, sama-sama mendapatkan keuntungan dari keadaan buruk yang menimpa orang lain. Betapa tidak, dengan adanya bencana-bencana seperti inilah para tenaga kerja kemanusiaan itu dibutuhkan, dan dengan adanya urgensi untuk menciptakan kestabilan di daerah yang terkena bencana tadi, maka banyak tenaga kerja kemanusiaan yang harus dikerahkan.
Beberapa waktu belakangan ini banyak orang-orang yang datang dan berdiam di Aceh tanpa surat kontrak, baik rekan-rekan lokal sampai orang asing sekalipun, yang hanya berbekal pengalaman kerja dibelakangnya plus koneksi dan jejaring mereka. Mereka juga ingin meraguk keuntungan seperti rekan-rekan yang sudah berada disini sebelumnya, menjadi tenaga kerja kemanusiaan dengan pendapatan yang cukup besar sekaligus menambah daftar pengalaman kerja dalam resumenya. Dan memang tidak dapat dipungkiri bahwa dengan membanjirnya organisasi lokal hingga internasional di Aceh sejak tsunami terjadi maka lapangan kerjapun semakin besar.
Aceh mungkin hanya menjadi satu batu loncatan bagi saya untuk mengembangkan jejaring saya kedepan (bila ingin terus bergelut dalam ‘dunia’ ini), tapi pengembangan kapasitas dan kualitas individupun tak kalah pentingnya dari sekedar jejaring dan koneksi. Dan semoga para tenaga kerja kemanusiaan (termasuk saya) itupun memang memiliki kemampuan yang dibutuhkan sehingga sumber daya yang diperuntukan bagi mereka tidak sia-sia, karena jika hanya mengandalkan koneksi dan jejaring semata, maka kita tak ubahnya seperti Indonesia masa kegelapan yang penuh dengan kolusi, korupsi dan nepotisme.
- tulisan ini dibuat berdasarkan observasi terhadap lingkungan yang ada disekitar saya dengan tidak berusaha mengeneralisir seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Aceh-


0 Comments:
Post a Comment
<< Home